Dunia Teater menurut pandangan orang awam seperti saya ini adalah ditilik dari semiotik dan semiologinya baik verbal maupun non verbal. Semiologi dikhayalkan sebagai logika tentang tanda-tanda semacam semaphore di kalangan pramuka. Sedangkan semiotik adalah proses atau cara menyampaikan mengenterpretasikan tanda tanda yang tersirat dalam teater itu. Berbicara masalah tanda adalah dari bahasa latin signifiant (signifier, petanda) dan signifie (signified, penanda), berdasarkan formal pendidikan mensyaratkan adanya referen (realita yang diacu oleh tanda) pada kedua istilah di atas, yang disebut representanem, dan interpretant.
*122. Jika adalah seperti
kecuali untuk penampungan dari
pada beberapa tempat dimana
menampung kejadian-kejadian bebas dari
, maka
*123. Jika , dan
dibentuk dari
dengan meletakkan
untuk beberapa kejadian-kejadian dari
, maka
Jika signifiant (signifier, petanda) adalah seperti Signifikansi pada dunia statistik dalam penelitian kita, sedangkan cerita yang disampaikan dalam teater adalah seperti realita kenyataan dalam dunia sehari hari ( referen). Maka dapat saya buatkan tabel seperti dibawah ini :
|
Gagasan hasil khayalan |
Teater Formal (Indie) |
Teater Non Formal |
|
Ide Cerita |
Signifikansi berdasarkan formal statistik dikembangkan dengan logika matematika |
Signifikansi berdasarkan kepakaran dan masuk akal. |
|
Suara – intonasi |
Metateorema – Logika Matematika |
Bebas berkreasi |
|
Mimik – tingkahan – gerak |
Metateorema – Logika Matematika |
Bebas berkreasi |
|
Rias wajah – rambut – kostum |
Metateorema – Logika Matematika |
Bebas berkreasi |
|
Properti – dekor |
Metateorema – Logika Matematika |
Bebas berkreasi |
|
Musik – bunyi-bunyian |
Berdasarkan tangga nada yang sudah baku. Pentatonik maupun musik modern serta.Inovasi dengan Logika Matematika |
Bebas bereksplorasi |
Untuk apa saya menulis artikel ini : Hanya dengan modal Logika Matematika dan sekedar mengunjungi perpustakaan universitas/institut/lembaga yang tersebar diseluruh perpusatakaan di Indonesia dengan segera tercipta cerita cerita dalam dunia teater yang tidak ada habis-habisnya. Dari skripsi/thesis/disertasi ditambah logika matematika menjadi ide cerita dunia teater menjadi skrip/naskah . Dimainkan sekelompok orang di teater/sinetron/film. Jadilah Revolusi Teater Indonesia.
Say No to Drugs.

Wah, ternyata film bisa dibikin pake rumus juga ya?
Hebat logikanya…walaupun sy ga terlalu ngerti
Oleh: brianari on 17 Mei, 2008
at 10:37 am
[...] Teratas Khayalan 1 blogger tentang Teater Indie Nasib Alumni di IndonesiaPameran motor modif ini juga membahas modifikasi motor PerkenalanTuker Link [...]
Oleh: Semiotika Arsitektur dan Harga Minyak « khayalan on 24 Mei, 2008
at 10:28 am
Hehehehe…. begitulah Teater, boleh dipandang dan dinikmati dari sisi mana saja. Bukankah teter itu adalah kehidupan..??
Saya suka khayalan ini…
Oleh: Eddy Siswanto on 6 Juni, 2008
at 12:14 am
boleh ngakak atas tulisan saya, tapi lihat saja PON kita yang lalu , juga pakai semaphore, Siaran Kabaret di TV terkenal mulai menyaingi Republik Mimpi yang ganti kulit jadi Democrazy.
Oleh: herman on 29 September, 2008
at 9:49 am