Saya sekedar ingin tahu. Melanjutkan tulisanku tentang semiotika teater ternyata aku baru tahu dalam arsitektur ada semiotikanya juga meskipun non verbal. Jadi ternyata berkomunikasi itu tidak harus pakai bahasa. Misalkan demo dengan yel-yel “turunkan harga minyak” (verbal) dengan latar belakang “Gedung Sate” ( non verbal) lambang imperialisme-kolonialisme setelah difoto komunikasi gabungannya “kenaikan harga minyak adalah mirip dengan imperialisme-kolonialisme”. Ini katanya arsitek adalah elemen elemen : fixed elemen, semi-fixed elemen dengan pengungkapan yang high level meaning, midle, serta multilevel of meaning. Menarik ya mungki blog arsitek yang akan menjelaskan diterapkan disain rumah, sehingga rumah seperti teater.
Oleh: nemu | 24 Mei, 2008

hueh
Oleh: thiocool on 24 Mei, 2008
at 1:15 pm
…dalam ranah arsitektur, semiotika (pernah) menjadi salah satu metoda desain yang paling diminati (coba baca Poetics of Architecture – Antniades) terutama setelah muncul pemikiran post-strukturalist dalam ranah filsafat. Semiotika dalam desain arsitektur mengalami puncaknya pada dekade 80-paruh akhir 90 an. Salah satu contoh yang sangat bagus dalam “perselingkuhan” antara arsitektur dan semiotika anda bisa “membaca” penuh pesan dan makna dari desain dan bangunan Jewish Museum – Berlin (1989) karya Daniel Libeskind. Pada desain dan bangunan ini anda dapat dengan jelas memahami antara sign – signified – signifier nya.
semoga membantu…
salam
Oleh: egon on 5 Juni, 2008
at 11:08 pm