Semiotika Arsitektur dan Harga Minyak

Saya sekedar ingin tahu. Melanjutkan tulisanku tentang semiotika teater ternyata aku baru tahu dalam arsitektur ada semiotikanya juga meskipun non verbal. Jadi ternyata berkomunikasi itu tidak harus pakai bahasa. Misalkan demo dengan yel-yel “turunkan harga minyak” (verbal) dengan latar belakang “Gedung Sate” ( non verbal) lambang imperialisme-kolonialisme setelah difoto komunikasi gabungannya “kenaikan harga minyak adalah mirip dengan imperialisme-kolonialisme”. Ini katanya arsitek adalah elemen elemen : fixed elemen, semi-fixed elemen dengan pengungkapan yang high level meaning, midle, serta multilevel of meaning. Menarik ya  mungki blog arsitek yang akan menjelaskan diterapkan disain rumah, sehingga rumah seperti teater. 

2 Responses to Semiotika Arsitektur dan Harga Minyak

  1. thiocool mengatakan:

    hueh

  2. egon mengatakan:

    …dalam ranah arsitektur, semiotika (pernah) menjadi salah satu metoda desain yang paling diminati (coba baca Poetics of Architecture – Antniades) terutama setelah muncul pemikiran post-strukturalist dalam ranah filsafat. Semiotika dalam desain arsitektur mengalami puncaknya pada dekade 80-paruh akhir 90 an. Salah satu contoh yang sangat bagus dalam “perselingkuhan” antara arsitektur dan semiotika anda bisa “membaca” penuh pesan dan makna dari desain dan bangunan Jewish Museum – Berlin (1989) karya Daniel Libeskind. Pada desain dan bangunan ini anda dapat dengan jelas memahami antara sign – signified – signifier nya.
    semoga membantu…

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: