Ho No Co Ro Ko sebagai Karya Sastra

Sepeti kita ketahui Ha Na Ca Ra Ka tidak hanya merupakan aksara namun mempunyai nilai sastra juga pada saat rangkaian aksara itu ditransfer menjadi satu jalinan cerita yang dipercayai banyak orang. Dimana karya Sastra mempunyai unsur intrinsik yang merupakan struktur (kerangka) dan unsur ekstrinsik yang mewarnai karya Sastra yaitu unsur-unsur dari luar yang mempengaruhi isi karya Sastra ( ideologi ,sosiologi, sejarah, filsafat, psikologi, ideologi, politik, agama,dll ). Keduanya merupakan satu kesatuan integral. Terkadang kita bingung sendiri bagaimana memahaminya dan menerapkannya atau mengapresiasikannya. Pendekatan apa yang digunakannya ? Dalam hal ini aksara Ha Na Ca Ra Ka . Setelah mencari beberapa sumber ( pernah donlod tapi lupa url, tanpa data author ) ternyata ada beberapa pendekatan karya sastra ( Pendekatan intrinsik dan ekstrinsik, Pendekatan Mimetik , Pendekatan Pragmatik , Pendekatan Ekspresif , Pendekatan Objektif.) yang termasuk tapi tidak dibatasi Ha Na Ca Ra Ka :

  1. Pendekatan intrinsik dan ekstrinsik : Dimana nilai intrinsik didahulukan ( tanpa mengabaikan unsur ekstrinsiknya) yaitu unsur yang secara organik membangun karya sastra dari dalam unsur tersebut yang jalin-menjalin secara struktural sehingga terwujud sebuah karya sastra. Betapapun kecilnya pendekatan ekstrinsik tetap diperlukan dalam penelitian sastra Hal ini terbukti bahwa penelitian sastra sangat membutuhkan ilmu-ilmu lain yang relevan. Dengan kata lain, karya sastra berusaha mengkongkretkan ide-ide, gagasan, imajinasi pengarang. Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang mengutamakan penalaran (penerimaan pembaca secara logis). Jika suatu objek dikongkretkan dalam karya oleh orang yang berbeda, akan melahirkan bentuk yang berbeda hal ini dipengaruhi oleh faktor imajinasi, pengalaman, pengetahuan, latar belakang sosial budaya, dan lain-lain (disebut segi ekstrinsik). Teori segi intrinsik dan ekstrinsik merupakan pusat timbulnya berbagai teori tentang sastra. Ha Na Ca Ra Ka tidak bisa lepas dari nilai ekstrinsik.
  2. Pendekatan Mimetik : yang memandang karya sastra sebagai tiruan atau pembayangan dunia kehidupan nyata, yaitu suatu konsep yang dikembangkan oleh Plato dan diungkapkan oleh Aristoteles. Plato berpendapat bahwa seni sastra hanyalah tiruan alam yang nilainya jauh di bawah kenyataan dan ide. Aristoteles menyatakan bahwa tiruan itu yang justru membedakannya dari segala sesuatu yang nyata dan umum. Ha Na Ca Ra Ka jelas menceritakan tiruan kehidupan nyata yang dispekulasikan selalu benar Ma Ga Ba Ta Nga , padahal tidak sedikit peristiwa serupa yang menjadi sama sama untungnya Monggo Bati, sama sama bati. Contohnya PON ( Pekan Olah Raga Nasional ) tidak ada satupun yang Ma Ga Ba Ta Nga semua juara semua dapat untung atau Lelang Terbuka yang tidak ada Ma Ga Ba Ta Nga dimana yang kalah bisa ikut lelang berikutnya.
  3. Pendekatan Pragmatik : Memandang karya sastra ditentukan oleh publik pembacanya sebagai penyambut karya sastra. Karya sastra dianggap unggul jika berguna bagi publiknya. Misalnya menyenangkan, menghibur, mendidik, dan sebagainya. Dalam hal Ha Na Ca Ra Ka ide ceritanya dalam suasana penjajahan Belanda yang sekarang di era Reformasi perlu dipertanyakan lagi. Dengan pendekatan pragmatik, penelitian sastra ditujukan pada emosi atau jiwa pengarang Sehingga karya sastra merupakan sarana untuk memahami keadaan jiwa pengarang Menonjol pada abad ke-19 (zaman romantik Eropa).
  4. Pendekatan Ekspresif : Memandang karya sastra sebagai pernyataan dunia batin pengarang. Jika dibayangkan bahwa segala gagasan, emosi, ide, dan lain-lain merupakan dunia dalam pengarang, karya sastra merupakan dunia luar yang sesuai dengan dunia dalam.
  5. Pendekatan Objektif : Memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dengan pengarang dan lingkungan sosial budayanya. Karya sastra berdiri sendiri, dan dapat dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri. Lha dari sini Ha Na Ca Ra Ka sebagai karya sastra alangkah indahnya apabila Happy Ending gitu lho khayalan saya.

Pendapat Teeuw
Lima pendekatan tersebut saling melengkapi dan saling memerlukan, tidak ada yang terbaik, tidak ada yang paling benar, penerapan tergantung pada sifat karya sastra tertentu. Oleh sebab kesimpulan saya Ha Na Ca Ra Ka adalah juga bagaimana cara kita mendekatinya. Bagaimana dengan anda apakah masih perduli, atau dibiarkan menjadi extinct, atau distinct ??.

3 Responses to Ho No Co Ro Ko sebagai Karya Sastra

  1. yuswae mengatakan:

    ora iso nulise mas…😀

  2. Qinimain Zain mengatakan:

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    Bravo … Terima Kasih atas Kutipan sebagai Ulasan komentar yang lengkap dan terinci … sekali lagi Terima Kasih.

  3. agus sugiyanto mengatakan:

    melihat berbagai pendekatan yang telah terpaparkan dapat kita simpulkan bahwasanya diantara kelima pendekatan isinya mempunyai kesamaan arti dan diantara ke lima pendekatan tersebut tidak ada yang di rugikan, saya seuju sekali bahwasanya tadi dikatakan karya sastra merupakan khayalan jauh dari kenyataan dari itulah timbul keromantisan berkarya, seperti Ho No Co Ro Ko dimana huruf jawa ini mempunai banyak arti dan memepunyai nilai sastra yang begitu dalam, tapi dalam pembelajaran sebuah sastra itu lebih sulit dari pada mengarang sebuah karya sastra, karna teori dapat mempersulit jiwa kita untuk mengeksploitasi ide-ide kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: