Groupthink

Groupthink adalah sebuah konsep yang diidentifikasi oleh Irving Janis yang merujuk kepada pengambilan keputusan yang salah dalam kelompok. Kelompok yang mengalami groupthink tidak mempertimbangkan semua alternatif dan mereka menginginkan kesepakatan dengan mengorbankan kualitas keputusan.

Kondisi. Groupthink terjadi ketika kelompok-kelompok sangat kohesif dan ketika mereka berada di bawah tekanan cukup besar untuk membuat keputusan yang berkualitas.

Beberapa hasil negatif groupthink meliputi:
* Meneliti beberapa alternatif
* Tidak bersikap kritis terhadap ide-ide satu sama lainnya
* Tidak memeriksa alternatif awal
* Tidak mencari pendapat ahli
* Menjadi sangat selektif dalam mengumpulkan informasi
* Tidak memiliki rencana kontingensi

Gejala : Beberapa gejala groupthink adalah:
* Memiliki ilusi kekebalan
* Rasionalisasi keputusan buruk
* Percaya kepada kelompok moralitas
* Berbagi stereotip yang mengarahkan keputusan
* Mengexercise tekanan langsung pada orang lain
* Tidak mengungkapkan perasaan anda yang sebenarnya
* Memelihara ilusi kebulatan suara
* Menggunakan mindguards untuk melindungi kelompok dari informasi negatif

Solusi.: Beberapa solusi antara lain:
* Dengan menggunakan kebijakan-kelompok yang membentuk laporan kepada kelompok yang lebih besar
* Menjaga pemimpin tetap tidak memihak
* Menggunakan kelompok kebijakan yang berbeda untuk tugas yang berbeda
* Membagi dalam kelompok-kelompok dan kemudian mendiskusikan perbedaan
* Mendiskusikan dalam sub-kelompok dan kemudian melaporkan kembali
* Menggunakan ahli di luar kelompok
* Menggunakan Devil’s advokat untuk mempertanyakan semua ide-ide kelompok
* Memegang "kesempatan pertemuan kedua" untuk menawarkan satu kesempatan terakhir untuk memilih tindakan lain

http://www.abacon.com/commstudies/groups/groupthink.html

Polarisasi Kelompok

Bagaimana mungkin efek polarisasi diterangkan? Satu pandangan awal mungkin adalah untuk melihatnya sebagai artefak statistik, yaitu: ketika kita sudah melihat lebih awal, jika anggota group ditarik secara acak dari suatu populasi dan kemudian didapat 70 persen mempunyai suatu pilihan tertentu, maka lebih dari 70 persen dari keputusan kelompok akan mencerminkan pilihan itu (dengan assumsi aturan mayoritas). Bagaimanapun, pembuatan keputusan kelompok bukanlah suatu unsur yang penting dalam prosedur yang mengerucut ke arah polarisasi; suatu periode diskusi yang ringkas yang diikuti oleh tanggapan individu akan menghasilkan pula suatu pergeseran didalam kelompok rata-rata ( Myers dan Lamm, 1976). Hal ini berarti suatu pergeseran didalam pilihan individu terjadi sebagai hasil proses kelompok.

Penjelasan yang lebih tepat didasarkan pada proses informasi dan berdasarkan norma pengaruh dibahas dalam konteks penyesuaian. Sejauh sesuatu yang informasional mempengaruhi, ’jumlah yang lebih besar’ dari argumentasi dan fakta yang dikemukakan selama diskusi maka kelompok akan mendukung ‘kecenderungan awal’ para anggota kelompok. Ini mengkonfirmasikan anggota kelompok didalam pendapat mereka. Fakta bahwa informasi yang konsisten dengan kepercayaan utama seseorang lebih mungkin dicatat dan diambil dengan serius juga berperan untuk perwujudan ini ( Ferrell, 1985; Myers dan Lamm, 1976).

Pengaruh berdasarkan norma menuntun ke arah polarisasi melalui milik anggota kelompok yang berhubungan dengan self-perception dan self-presentation yang dikehendaki. Hal-hal dimana dirasa anggota kelompok lain mempunyai arah pendapat yang lebih ekstrim dari kecenderungan mereka sendiri, maka secara sosial lebih diinginkan dibanding anggota kelompok dengan kecenderungan berbeda.

Suatu komunikator ekstrim dari suatu pendapat yang dapat diperbandingkan ke posisi diri sendiri dirasakan sebagai yang lebih berkompeten dan polos dibanding suatu komunikator moderat ( Myers dan Lamm, 1976). Keinginan untuk diterima oleh anggota kelompok yang lebih ekstrim, dan kecenderungan untuk merasa dan menyajikan dirinya sebagai anggota dari suatu dengan baik dirasa ’ didalam-kelompok’ keduanya berperan untuk efek polarisasi. Efek ini diperkuat oleh komitmen lisan bagi suatu posisi yang dinyatakan lebih dahulu didalam diskusi kelompok: setelah itu suatu perubahan posisi didalam arah kecenderungan awal ( yaitu. polarisasi) adalah lebih mudah dilaksanakan dibanding suatu perubahan dalam arah kebalikannya ( Ferrell, 1985; Myers dan Lamm, 1976).

Kedua format pengaruh tersebut adalah penting. Kepentingan relatifnya ( mengenai polarisasi seperti halnya untuk penyesuaian) tergantung pada jenis interaksi dan jenis tugas. Jika interaksi didalam kelompok sebagian besar merupakan socio-emotional yang alamiah, maka pengaruh berdasarkan norma menjadi lebih penting. Tugas dalam mengarahkan interaksi menjadi lebih betul-betul dihubungkan dengan pengaruh dan bujukan informasionil. Sejauh tentang jenis tugas terkait, didalam tugas-tugas judgemental pengaruh berdasarkan norma relatif lebih penting, dan didalam tugas intellective lebih berpengaruh dalam informasi ( Kaplan, 1987).

(dari : Making the Right Decision, Lee Roy Beach)

Kabupaten 50 Kota

Seumur umur baru kali ini saya mendengar kata ini. Apakah ini bermakna satu kabupaten yang berisi 50 kota kecil kecil. Atau kabupaten sudah kehabisan nama sehingga diambil saja 50 Kota. Bagi yang belum tahu kabupaten ini memang ada . Kabupaten 50 Kota terletak di bagian timur 124 km dari Kota Padang di wilayah Provinsi Sumatera Barat, ibu kota provinsi. Luas wilayahnya 3.354,30 km persegi, terbagi dalam delapan kecamatan dengan 180 desa dan 505 dusun. Payakumbuh adalah ibu kota Kabupaten Limapuluh Kota. Penamaan ini ada ceritanya menurut tukang kaba, selanjutnya cari sendiri lewat Google he he .. Salam untuk Kabupaten 50 Kota semoga cepat pulih dari reruntuhan longsor dan bersemangat membangun kembali, ikut berbela sungkawa atas korban longsor.

Pergeseran yang penuh resiko’ dan Polarisasi Kelompok

Mungkin nampak layak untuk berasumsi bahwa kelompok akan lebih berhati-hati didalam pembuatan keputusan dibanding individu. Pembuatan keputusan kelompok, baik melalui konsensus maupun melalui aturan mayoritas, mungkin diharapkan untuk menjadi lebih sedikit bersifat extremity-prone dibanding keputusan individu. Bagaimanapun, bukti yang melimpah menyatakan bahwa hal ini adalah tidak selalu seperti kasus diatas.

Khususnya, manakala anggota individu dari suatu kelompok ditempatkan kearah resiko, proses diskusi kelompok akan memperkuat kecenderungan tersebut. Sebagai hasilnya, keputusan kelompok menjadi lebih penuh resiko dibanding rata-rata kecenderungan anggota yang semula kita perkirakan ( Whyte, 1989). Perwujudan ini disebut "pergeseran yang penuh resiko" .

Pergeseran yang penuh resiko adalah suatu subset gejala pergeseran pilihan yang mengundang polarisasi kelompok ( Kerr, 1992). Kecenderungan yang sama kearah polarisasi dapat dilihat didalam kelompok, dimana anggota pada awalnya secara relatif berhati-hati.

Setelah diskusi kelompok, kelompok ini memajang sesuatu bahkan yang lebih kuat dalam penghindaran resiko. Di dalam polarisasi umum mengacu pada suatu peningkatan didalam ekstrimitas rata-rata tanggapan pokok materi populasi tanggapan. Efek ini telah dipertunjukkan, tidak hanya untuk pilihan resiko dan penghindaran resiko, tetapi juga untuk sikap ke arah isu seperti hukuman mati atau peperangan, pertimbangan fakta dan persepsi orang ( Myers dan Lamm, 1976).

Dalam semua kasus proses diskusi kelompok cenderung untuk memperdalam pendapat anggota kelompok. Ini hanya benar, bagaimanapun, jika anggota kelompok yang pada awalnya pada dasarnya setuju. Efek polarisasi adalah juga terbatas pada isu secara relatif penting. Jika isu kelompok cukup tak penting depolarisasi dapat terjadi: setelah diskusi kelompok posisi rerata adalah lebih sedikit ekstrim dibanding sebelumnya ( Kerr, 1992).

Polarisasi Kelompok adalah intensifikasi dari suatu pre-existing awal kelompok pilihan ( Baron et al. 1992 : 73). Efek polarisasi menyinggung pada rata-rata score individu sebelum dan setelah diskusi kelompok. Anggota kelompok paling ekstrim, mungkin sekali , sudah menjadi lebih moderat setelah diskusi itu. Tetapi pada rata-rata pertimbangan atau pilihan sudah menjadi yang lebih ekstrim.

(dari : Making the Right Decision, Lee Roy Beach)

Jika kisruh KPK dan Tim8 seperti problem perkuliahan di kampus atau seperti “waste water treatment plant”

Seperti yang kita ketahui sistem kurikulum perkuliahan di kampus mewajibkan mahasiswa untuk menempuh mata kuliah wajib yang dalam bahasa kampusnya “fakultatif”. Disamping mata kuliah wajib ada matakuliah pilihan yang dalam bahasa kampusnya “optional”. Jadi kalau kita menyimak istilah “opsi” disini adalah sesuatu yang tidak harus, ada keleluasaan untuk memilih. Seperti juga pada “waste water treatment plant" (wwtp) ada komponen komponen yang "optional" yaitu komponen dalam keseluruhan sistem wwtp tidak harus dibangun , contohnya "polishing pond“.  Jadi kalau pernyataan  “jangan bawa kepengadilan” adalah suatu “opsi” maka yang “fakultatif” adalah “bawa ke pengadilan” yaitu undang-undang yang fakultatif kecuali ada perpu khusus yang optional. Fokus pada istilah OPSI. 

Jika pasar tradisional seperti Kyung-dong Sijangi Korea

Baru saja nonton TV NHK-World . Ceritanya Pasar tradisional Sijang di Korea juga seperti di Indonesia . Disebelahnya dibangun pasar modern lantai 6 dengan barang dagangan lebih banyak, lebih beraneka ragam, lebih banyak supplier, lebih mewah, lebih bersih, dll. Tentu saja timbul persaingan tidak sehat dan pasar tradisional volume penjualannya menurun. Ini memang akibat dari 2 sumber kekuatan dari pasar yang monopolistik. Pertama secara alami pasar modern mempunyai skala ekonomi yang lebih besar, lingkup ekonomi yang lebih luas, serta bisa mengatur cost complementarities. Kedua secara ciptaan/kreasi pasar modern mereguk kekuatan pasar monoplistik dengan hak patent, rintangan yang legal seperti lisensi, kontrak kontrak yang mengikat, kontrak eksklusif, kolusi dan praktek praktek lainnya yang melegalkan pasar monopolistik.

Yang dilakukan pasar tradisional Sijang – Korea adalah dengan membuat website untuk pesanan siap antar dengan meniru kekuatan pasar monopolistik volume lebih besar dengan harga lebih murah, menganeka ragamkan barang dengan cara bundling ( economies of scope) juga cost complementarities , hasil akhirnya pasar tradisional dapat bersaing dengan pasar modern.

Rencana Ngeblog Lagi setelah mandeg

Sudah sekian lama gak ngeblog sekarang disambung lagi. Setelah baca referens rencananya tulisan selanjutnya seperti tajuk rencana. Menurut corak keragamannya rencana kebijakan meliputi ranah berikut ini :

Teknokratik ( pemikirannya rational, ilmiah)
Demokratik ( dukungan dari mayoritas penduduk)
Sosialis ( menaungi pluralisme, dan konflik sosial)
Liberal ( pluralisme dimana masa lalu/masa depan tidak berpengaruh)

Hubungannya dengan rencana ngeblog lagi sebagai berikut

Perencanaan Induk Blog ( Teknokratik)
Perencanaan Komprehensif Blog ( Dari Teknokratik ke Demokratik )
Perencanaan Strategis Blog ( Dari Demokratik ke Sosialis)
Perencanaan Ekuiti Blog ( Sosialis)
Perencanaan Advokasi Blog ( Sosialis)
Perencanaan Inkremental Blog ( Liberal)

Inkremental adalah juga Marjinal dan dalam ekonomi manajerial dalam persaingan sempurna nilai nilai ditentukan dari marjinal revenuenya. Marjinal revenue ini disamakan dengan marjinal cost didapat kwantitas. Berapa cost menulis blog ? berapa revenue menulis blog ? berapa kwantitas artikel yang ditulis ? … ya hitung sendiri saja …. ha ha ha …